PROFIL ARSITEK INDONESIA
Yusuf Bilyarta Mangunwijaya, Pr. (lahir
di Ambarawa, Kabupaten Semarang, 6 Mei 1929 – meninggal
di Jakarta, 10 Februari 1999 pada umur 69
tahun), dikenal sebagai rohaniwan, budayawan, arsitek, penulis, aktivis dan
pembela wong cilik (bahasa Jawa untuk
"rakyat kecil"). Ia juga dikenal dengan panggilan populernya, Rama
Mangun (atau dibaca "Romo Mangun" dalam bahasa Jawa).
Romo Mangun adalah anak sulung dari 12 bersaudara pasangan suami istri Yulianus
Sumadi dan Serafin Kamdaniyah.
Arsitektur
Dalam bidang arsitektur,
ia juga kerap dijuluki sebagai bapak arsitektur modern Indonesia. Salah satu
penghargaan yang pernah diterimanya adalah Penghargaan Aga Khan untuk Arsitektur,
yang merupakan penghargaan tertinggi karya arsitektural di dunia berkembang,
untuk rancangan permukiman di tepi Kali Code, Yogyakarta.
Ia juga menerima The Ruth and Ralph Erskine Fellowship pada tahun 1995, sebagai
bukti dari dedikasinya terhadap wong cilik. Hasil jerih
payahnya untuk mengubah perumahan miskin di sepanjang tepi Kali Code mengangkatnya
sebagai salah satu arsitek terbaik di Indonesia. Menurut Erwinthon P.
Napitupulu, penulis buku tentang Romo Mangun yang akan diluncurkan pada akhir
tahun 2011, Romo Mangun termasuk dalam daftar 10 arsitek Indonesia terbaik.
Pendidikan
·
STM Jetis, Yogyakarta
(1943-1947)
·
SMU-B Santo Albertus,
Malang (1948-1951)
·
Seminari
Menengah Kotabaru, Yogyakarta (1951)
·
Seminari Menengah Santo Petrus
Kanisius, Mertoyudan, Magelang (1952)
·
Filsafat Teologi Sancti Pauli,
Kotabaru, Yogyakarta (1953-1959)
·
Teknik Arsitektur, ITB,
Bandung (1959)
·
Rheinisch Westfaelische
Technische Hochschule, Aachen, Jerman (1960-1966)
·
Fellow Aspen Institute for
Humanistic Studies, Colorado, AS (1978)
Biografi
Pada tahun 1936, Y. B.
Mangunwijaya masuk HIS Fransiscus
Xaverius, Muntilan, Magelang.
Setelah tamat di tahu 1943, dia meneruskan ke ke STM Jetis,
Yogyakarta, di mana dia mulai tertarik pada Sejarah Dunia dan Filsafat. Sebelum
sekolah tersebut dibubarkan setahun kemudian, dia aktif mengikuti kingrohosi yang
diadakan tentara Jepang di lapangan Balapan, Yogyakarta. Pada tahun 1945, Y. B.
Mangunwijaya bergabung sebagai prajurit TKR Batalyon X divisi
III dan bertugas di asrama militer di Vrederburg, lalu di asrama militer di Kotabaru,
Yogyakarta. Dia sempat ikut dalam pertempuran di Ambarawa, Magelang,
dan Mranggen. Setahun kemudia, dia kembali melanjutkan sekolahnya di STM Jetis
dan bergabung menjadi prajurit Tentara
Pelajar.
Setelah lulus pada 1947, Agresi Militer Belanda I melanda
Indonesia sehingga Y. B. Mangunwijaya kembali bergabung dalam TP Brigade XVII
sebagai komandan TP Kompi Kedu.
·
1948: Masuk SMU-B Santo
Albertus, Malang
·
1950: Sebagai perwakilan dari
Pemuda Katolik menghadiri perayaan kemenangan RI di alun-alun kota Malang. Di
sini Mangun mendengar pidato Mayor Isman yang kemudian sangat berpengaruh bagi
masa depannya.
·
1951: Lulus SMU-B Santo Albertus,
melanjutkan ke Seminari Menengah Kotabaru, Yogyakarta.
·
1952: Pindah ke Seminari Menengah Santo Petrus
Kanisius, Mertoyudan, Magelang.
·
1953: Melanjutkan ke Seminari
Tinggi. Sekolah di Institut Filsafat dan Teologi Santo Paulus di
Kotabaru. Salah satu pengajarnya adalah Mgr. Albertus Soegijapranata, SJ.
·
1959: 8 September ditahbiskan
menjadi Imam oleh Uskup Agung Semarang, Mgr. Albertus Soegijapranata, SJ.
dan Melanjutkan pendidikan di Teknik Arsitektur ITB.
·
1960: Melanjutkan pendidikan
arsitektur di Rheinisch Westfaelische Technische
Hochschule, Aachen, Jerman.
·
1963: Menemani saat Uskup Agung Semarang, Mgr. Albertus Soegijapranata, SJ meninggal
dunia di Biara Suster Pusat Penyelenggaraan Ilahi di Harleen, Belanda
·
1966: Lulus pendidikan arsitektur
dan kembali ke Indonesia.
·
1967-1980: Menjadi Pastor
Paroki di Gereja Santa Theresia, Desa Salam, Magelang;
menjadi pelindung Kring Karitas Nandan;
mulai berhubungan dengan pemuka agama lain, seperti Gus Dur dan
Ibu Gedong Bagoes Oka; menjadi Dosen Luar Biasa
jurusan Arsitektur Fakultas Teknik UGM; mulai menulis artikel
untuk koran Indonesia Raya dan Kompas,
tulisan-tulisannya kebanyakan bertema: agama, kebudayaan, dan teknologi. Juga
menulis cerpen dan novel.
·
1975: Memenangkan Piala Kincir
Emas, dalam cerpen yang diselenggarakan Radio Nederland.
·
1978: Atas dorongan Dr. Soedjatmoko,
Romo Mangun mengikuti kuliah singkat tentang masalah kemanusiaan sebagai Fellow of Aspen Institute for Humanistic
Studies, Aspen, Colorado, AS.
·
1980-1986: Mendampingi warga
tepi Kali Code yang terancam penggusuran.
Melakukan mogok makan menolak rencana penggusuran.
·
1986-1994: Mendampingi warga Kedung Ombo yang
menjadi korban proyek pembangunan waduk.
·
1992: Mendapat The Aga
Khan Award untuk arsitektur Kali Code.
·
1994: Mendirikan laboratorium
Dinamika Edukasi Dasar. Model pendidikan DED ini diterapkan di SD Kanisius
Mangunan, di Kalasan, Sleman, Yogyakarta.
·
1998 26 Mei: Menjadi salah
satu pembicara utama dalam aksi demonstrasi peringatan terbunuhnya Moses
Gatutkaca di Yogyakarta.
·
10 Februari 1999: Wafat karena
serangan jantung, setelah memberikan ceramah dalam seminar Meningkatkan
Peran Buku dalam Upaya Membentuk Masyarakat Indonesia Baru di Hotel Le
Meridien, Jakarta.
Karya Arsitektur
·
Permukiman warga tepi Kali Code,
Yogyakarta
·
Kompleks Religi Sendangsono,
Yogyakarta
·
Gedung Keuskupan Agung
Semarang
·
Gedung Bentara Budaya, Jakarta
·
Gereja Katolik Jetis,
Yogyakarta
·
Gereja Katolik Cilincing,
Jakarta
·
Markas Kowihan II
·
Biara Trappist Gedono, Getasan,
Semarang
·
Gereja Maria Assumpta, Klaten
·
Gereja Katolik Santa Perawan
Maria di Fatima Sragen
·
Gereja Maria Sapta Duka,
Mendut
·
Gereja Katolik St. Pius X,
Blora
·
Wisma Salam, Magelang
Penghargaan
·
Penghargaan Kincir Emas untuk
penulisan cerpen dari Radio Nederland
·
Aga Khan Award for
Architecture untuk permukiman warga pinggiran Kali Code,
Yogyakarta [www.akdn.org/agency/akaa/fifthcycle/indonesia.html]
·
Penghargaan arsitektur dari
Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) untuk tempat peziarahan Sendangsono.
·
Pernghargaan sastra se-Asia
Tenggara Ramon Magsaysay pada tahun 1996


0 komentar:
Posting Komentar