Cara Kerja Konsultan Perencana Arsitek
(tur) rumah tinggal mencerminkan bobot professionalismenya. Hasil kerja berkualitas amat dipengaruhi cara mengerjakannya. Arsitek bertanggung jawab terhadap seluruh isi gambar kerja yang dibuat. Terlebih saat digunakan di proyek pada masa pembangunan.Ketentuan di gambar kerja sering perlu penyesuaian dan pengubahan di lapangan. Kedalaman dan tinggi pondasi merupakan item yang paling sering disesuaikan. Keras lembeknya tanah akan sangat berpengaruh pada struktur pondasi. Karena itu, ahli sipil bangunan boleh, bahkan harus, menghitung ulang ketentuan gambar sesuai kondisi tanah proyek.
Banyak lagi item di gambar kerja arsitektur perlu disesuaikan. Soal struktur teknis dan finishing akhir rumah tak kalah banyaknya mesti dilakukan pengubahan dari gambar awal. Nah jika demikian, lalu bagaimana tingkat akurasinya gambar kerja yang dibuat arsitek sebagai konsultan perencana? Kok masih perlu pengubahan?
DED berupa gambar kerja arsitektur lengkap memang telah mengatur hingga bagian teknis terkecil. Dan arsitek pun telah survei lapangan sebelum menggambar. Akan tetapi yang namanya pengubahan di proyek bisa saja terjadi. Tak bisa dihindari sama sekali. Di sinilah perlunya gambar as built drawing dibuat. Demi terlaksananya gambar sesuai kondisi lapangan.
Atau pemilik proyek bisa mengontrak arsitek sebagai konsultan perencana untuk melakukan supervisi lapangan. Turut terlibat dan mengawasi pembangunan di proyek. Memastikan pengubahan gambar tak berakibat pengubahan konsep dasar rumah.
Sesekali, mari mengetahui cara kerja dan lingkup tanggung jawab arsitek konsultan perencana dalam merancang rumah dengan daftar pertanyaan beserta jawabannya:
1. Apa saja tanggungjawab arsitek dalam masa pembanguan rumah?
Tanggung jawab utama arsitek perencana rumah tinggal adalah memastikan gambarnya bisa digunakan untuk membangun rumah. Arsitek harus melakukan diskusi dan transformasi pemahaman ke bagian pelaksana pembangunan sedetail-detailnya. Tak boleh ada yang terlewat. Terutama soal penggunaan material bangunan.
Kalau diperlukan arsitek juga terlibat melakukan supervisi lapangan. Banyak manfaatnya kalau arsitek terlibat mengikuti kemajuan pekerjaan. Bisa mengarahkan langsung kalau terjadi penyempurnaan. Meskipun telah membuat gambar 3 D sebagai acuan visual, jauh lebih mantap kalau arsitek melihat langsung hasil gambarnya.
2. Kalau terjadi kekeliruan pekerjaan di lapangan itu sebenarnya tanggung jawab siapa?
Kalau gambarnya telah jelas dan rinci, kesalahan di lapangan tentu tanggung jawab pelaksana/kontraktor. Nah umpama kesalahan terjadi akibat pelaksana tak mampu memahami ketentuan teknis gambar maka arsitek bisa dimintai tanggung jawab sebatas menerangkan ulang. Tak lebih.
Lain soal kalau kesalahan pekerjaan diakibatkan tak tersedianya gambar, atau akibat gambar yang salah, maka murni itu tanggung jawab arsitek. Wajib bagi arsitek untuk memperbaiki atau membuat gambar susulan sebagai keharusan kontrak kerja dengan klien.
3. Lalu bagaimana cara mengatasinya?
Lazimnya, arsitek kompeten dan professional membuat spesifikasi teknis bangunan dalam lampiran gambar kerja. Menerangkan alternatif pilihan maupun ketentuan baku penggunaan matrial. Terutama kelas matrial yang bakal digunakan finishing. Meskipun begitu tak menjamin semua terlaksana persis.
Cara mengatasi kekeliruan pekerjaan di lapangan, kalau menyangkut struktur, tak ada toleransi. Harus dibongkar. Dibuat ulang sesuai ketentuan bakunya agar tak membahayakan. Kalau kesalahan tak fatal, akal cerdik arsitek banyak akal untuk mengatasi.
4. Saya punya tukang langganan di kampung, bisa tidak arsitek membantu mengarahkan saat
pembangunan rumah?
Soal ini banyak terjadi di proyek kok. Arsitek perencana memberi pengarahan dan supervisi ke kepala tukang bukan kategori pemborong. Banyak sekali tukang berpengalaman berkemampuan kerja bagus, tukang bisanya punya ilmu titen (baca: hafalan). Terbentuk kemampuan kerjanya diproyek karena pengalaman. Berprinsip alah bisa karena biasa.
Asal nyambung dalam memahami gambar, cara lapangan tukang juga bisa diandalkan untuk membangun rumah. Catatannya, asal tingkat kerumitannya tidak sangat tinggi. Jika mau aman, sebaiknya pemilik proyek mempekerjakan pengawas lapangan berlatar ilmu teknik sipil. Agar tak was-was soal mutu bangunan.
5. Bagaimana cara memilih arsitek yang baik, apa kualifikasinya?
Kalau kualifikasinya normatif, ya pilih saja arsitek yang terdaftar sebagai anggota IAI. Bersertifikat dan kualifikasinya didapat dari pengujian asosiasi IAI tersebut. Terpercaya dan memenuhi syarat soal kemampuan. Kalau pendekatannya praktis, arsitek berkualifikasi baik bila ia berpengalaman. Pernah merancang beberapa rumah dengan ragam kesulitan berbeda. Dan hasilnya pun terbukti bagus.


0 komentar:
Posting Komentar